Sabtu, 14 November 2020

Sistem Informasi dan Pemasaran Global

 Nama    : Hany Nadyandika

NPM    : 12217670

Kelas    : 4EA10

Sistem Informasi dan Pemasaran Global

Sistem Informasi (SI) adalah kombinasi dari teknologi informasi dan aktivitas orang yang menggunakan teknologi itu untuk mendukung operasi dan manajemen.  Dalam arti yang sangat luas, istilah sistem informasi yang sering digunakan merujuk kepada interaksi antara orang, proses algoritmik, data, dan teknologi. Dalam pengertian ini, istilah ini digunakan untuk merujuk tidak hanya pada penggunaan organisasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK), tetapi juga untuk cara di mana orang berinteraksi dengan teknologi ini dalam mendukung proses bisnis.

Tujuan Sistem Informasi Pemasaran

Tujuan dari sistem informasi manajemen (SIM) adalah memberi para manajer dan pengambilan keputusan lainnya arus informasi yang berkelanjutan mengenai pasar, pelanggan, pesaing, dan operasi perusahaan. SIM seharusnya berarti pengumpulan analisis, klasifikasi, menyimpan (storing), mendapatkan kembali (retrieving), dan melaporkan data-data yang relevan mengenai pelanggan, pasar, saluran (channel), penjualan, dan pesaing. SIM suatu perusahaan seharusnya juga mencangkup aspek-aspek penting lingkungan eksternal . Hasil operasi yang jelek sering ditemukan untuk data dan informasi yang tidak cukup mengenai kejadian-kejadian yang terjadi didalam dan diluar perusahaan.

Riset Pemasaran Internasional

Pemasaran dalam bisnis internasional sangat kompleks daripada pemasaran domestic. Perbedaan sosial, bahasa, politik, peraturan, dll perlu dipelajari dengan seksama kemudian dijadikan sebagai landasan kebijakan strategi pemasaran.  Pemahaman tentang lingkungan bisnis internasional seharusnya didasarkan pada penilitian yang dilakukan yang menyangkut produk, rencana pemasaran, strategi pemasaran.

Penelitian tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi problem pemasaran.  Macam data yang diperlukan dalam penelitian pemasaran :

a)      Data Sekunder

Data yang dikumpulkan pleh pihak lain(BPS, Dep perindustrian, IMF) data ini teralive lebih murah dan mudah untuk mendapatkannya

b)     Data Primer

Data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti, karenanya cara mendapatkannya data tersebut membutuhkan biaya yang mahal, mamakai waktu lama, kadang hasilnya sulit dikomparasi.  Data ini biasanya digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan yang bersifat taktis dan spesifik.

 

 

 

Ada bermacam macam informasi yang dibutuhkan dalam pemasaran internasional yaitu :

1)      Macro live information ( lingkungan fisik, lingkungan politik, lingkungan ekonomi).

2)      Market information ( kemungkinan masuk, karakteristik pasar).

3)      Micro level information ( sales forcasting, informasi biaya, informasi manajeman.

 

Manfaat sistem informasi,

1)     Manajeman dapat memonitor perubahan yang terjadi pada pasar pasar yang bebeda.

2)     Manajeman dapat memonitor perusahaan itu sendiri dalam pasar internasional

 

Analisis  kekuatan kompetitif :

1)     Dari dalam perusahaan.

2)     Bahan bahan publikasi.

3)     Para pemasok / pelanggan.

4)     Karyawan para pesaing.

5)     Observasi langsung

 

Pemasaran Internasional

Fungsi manajeman yang dianggap tulang punggung perusahaan adalah pemasaran. Tidak akan ada artinya Sebaik apapun produk yang dihasilkan perusahaan tetapi jika diimbangi oleh kemampuan perusahaan tersebut didalam memasarkan produknya.  Untuk mamasuki pasar internasional sebuah produk dapat diperlukan dengan dilakukan modifikasi yang tergantung pada beberapa faktor yaitu Jenis produk itu sendiri, biaya, dan peraturan dari negara yang dituju.

Standarisasi produk Yaitu produk dengan sangat sedikit atau tanpa modifikasi sama sekali, biasanya untuk barang-barang yang memang perlu distandarisasi seperti alat-alat kesahatan atau alat alat labotaorium dll.

Diferensiasi produk Beberapa jenis barang perlu dilakukan diferensiasi pasar agar perusahaan dapat menigkatkan keuntungan. Modifikasi produk adalah salah satun bentuk diferensiasi, dan deferensiasi  merupakan salah satu segmentasi pasar. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk melakukan diferensiasi produk yaitu jenis produk, kondidi dan kompetensi yang ada dipasar, kebutuhan fisik, infrastruktur, product life style, legal requirement, cost benafit analysis.

 

Segemantasi pasar Beberapa negara dapat dibagai dalam beberapa segmen denagn dasar tertentu seperti factor demografi, tingkat pendapatan, agama, kebiasaan konsumsi, dll.

Merek dan kemasan Merek dapat distandarisaitetapi dapat juga disesuaikan dngan kondisi negara tertentu sehingga untuk produk yang sama mereknya akan berbeda di negara lain.

Strategi produk Produk adalah fokus sentar bauran pemasaran. Jika sebuah produk tidak berhasil memuaskan konsumen, apaun upaya memasarkan yang dilakukan oleh produsen tidak akan berhasil.  Dalam merumuskan strategi produk para manajer pemasaran internasional harus ingat bahwa produk adalah lebih dari sekedar obyek fisik, tetapi mencangkup juga merek, aksesoris, layanan purna jual, jaminan, pentujuk pmakaian, cita perusahaan dan kemasan.

Jenis produk Klasifikasi produk adalah jenis produk industrial atau produk konsumen, yang memenuhi kebutuhan pasar dunia pada umuamnya produk industrial tidak terlalu mermerlukan banyak penyesuaian, hal tesebut berbeda dengan produk konsumen.

Fungsi Pemasaran Internasional

            Fungsi manajeman yang dianggap tulang punggung perusahaan adalah pemasaran. Tidak akan ada artinya Sebaik apapun produk yang dihasilkan perusahaan tetapi jika diimbangi oleh kemampuan perusahaan tersebut didalam memasarkan produknya.  Untuk mamasuki pasar internasional sebuah produk dapat diperlukan dengan dilakukan modifikasi yang tergantung pada beberapa faktor yaitu Jenis produk itu sendiri, biaya, dan peraturan dari negara yang dituju.

            Standarisasi produk yaitu produk dengan sangat sedikit atau tanpa modifikasi sama sekali, biasanya untuk barang-barang yang memang perlu distandarisasi seperti alat-alat kesahatan atau alat alat labotaorium dll.

Jumat, 30 Oktober 2020

Perusahaan di Indonesia yang mendapatkan lisensi dari negara asing

Nama    : Hany Nadyandika

NPM    : 12217670

Kelas    : 4EA10

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (“ICBP” atau “Perseroan”) merupakan produsen makanan dalam kemasan yang mapan dan terkemuka dengan berbagai pilihan produk makanan sehari-hari bagi konsumen di segala usia. Banyak di antara merek produknya merupakan merek terkemuka yang telah melekat di hati masyarakat Indonesia, serta memperoleh kepercayaan dan loyalitas jutaan konsumen di Indonesia selama bertahun-tahun.


            Indomie juga sudah menembus pasar luar negeri seperti Asia, Australia, AS, Eropa, hingga Afrika. Dalam merambah pasar internasional, Indofood membuka fasilitas produksi mie instan di berbagai negara, seperti di Jeddah, Saudi Arabia, dan Nigeria. Selain itu, Indofood juga memasarkan Indomie dengan menggunakan cara lisensi, seperti kepada Pinehill Arabia Food Limited (Saudi Arabia) dan De United Food Industries Limited (Nigeria), yang keduanya memperoleh hak untuk menggunakan merek Indomie di negaranya masing-masing.  Bahkan, di Nigeria, yang merupakan pasar mie instan terbesar ke-13 di dunia, Indomie sudah seperti makanan pokok dan dianggap sebagai makanan asli Nigeria sendiri. 

            Di tahun 1989, INDF masuk ke bisnis food seasonings yang menghasilkan kecap dan bumbu, dan 2 tahun kemudian juga membuat saus tomat dan sambal. Di tahun yang sama, INDF mengakuisisi PT Sari Pangan Nusantara, produsen makanan balita merek SUN. Selain membuat produk sendiri, di tahun 1990 INDF menjalin joint venture dengan Pepsico Foods yang punya merek Frito-Lay dan membuat snack berbahan baku kentang, dengan merek-merek seperti Chitato, Cheetos dan Chikita, snack foods berbahan baku ketela yang jumlahnya memang melimpah di Indonesia.

 

Senin, 26 Oktober 2020

Perusahaan yang melakukan kajian lingkungan sosial budaya

 Nama : Hany Nadyandika

NPM : 12217670

Kelas : 4EA10

Kentucky Fried Chicken

Kentucky Fried Chicken (KFC) memasuki India pada Juni 1995, tepatnya di Bangalore, dan menghadapi banyak protes dan demostrasi selama bertahun-tahun. Beberapa diantaranya adalah :

1. Meskipun pemerintah telah mengizinkan masuknya investasi asing di bidang makanan cepat saji pada awal 1990an, masih ada beberapa pihak yang tidak setuju. Alasan ketidaksetujuan ini diantaranya : banyaknya penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan, menjaga bisnis domestik, ketakutan akan invasi budaya, dampak buruk junk food bagi kesehatan, serta dampak ke pertanian dan lingkungan. Para petani mengatakan bahwa KFC telah bertindak tidak etis dengan menawarkan junk food di negara miskin seperti India, yang memiliki masalah malnutrisi yang parah. Selain itu, ketidaksetujuan juga datang dari pihak lain seperti nasionalis, aktivis lingkungan, dan aktivis binatang.

2. Pelanggaran terhadap peraturan mengenai kandungan MSG dalam makanan. Pada saat itu, Agustus 1995, batas kandungan MSG yang ditentukan oleh Indian Prevention of Food Adulteration Act (IPFAA) untuk makanan cepat saji adalah maksimal 1%. Sedangkan ayam Kentucky mengandung 2,8% MSG. Akibat kasus ini, KFC sempat dicabut surat izin usahanya dan berurusan dengan hukum. Namun pihak KFC terus menyatakan pembelaannya. Akhirnya, pada Desember 1995 pemerintah India menaikkan batas maksimal kandungan MSG di makanan. Meskipun demikian, aktivis terus mencari isu-isu lainnya untuk menjatuhkan KFC. Kontroversi mengenai MSG dan protes dari para nasionalis baru menghilang pada akhir 1990an, yang digantikan oleh masalah dari PETA.

3. PETA (People for the Ethical Treatment of Animals) India, yang terutama mengecam penyiksaan yang dilakukan KFC terhadap ayam di peternakannya. PETA bahkan sempat menyiarkan dokumentasi video pada konferensi pers di Bangalore pada tanggal 9 Oktober 2003. Video ini menggambarkan penderitaan yang dialami ayam-ayam di peternakan KFC, diantaranya memperlihatkan bagaimana ayam ditempatkan di kandang yang sempit dan harus berebutan untuk memperoleh makanan, rekayasa genetika yang dilakukan, tidak adanya pengobatan bagi ayam yang terkena penyakit, penyembelihan tanpa menggunakan anestesia, dan kekasaran yang dilakukan oleh pekerja di peternakan. Ayam-ayam diberi makan paksa sehingga tumbuh secara abnormal, mengalami patah tulang, serangan jantung, kelainan kaki. Selain itu, PETA mengklaim KFC sebagai pembunuh ayam terbesar di dunia. Sampai saat ini, perselisihan antara keduanya masih berlanjut.

KFC menghadapi banyak kasus selama tahun-tahun awalnya di India, yang dikarenakan kurangnya analisis terhadap lingkungan eksternal, diantaranya :

1.     Sosial budaya : budaya, nilai, institusi sosial, lingkungan.

2.     Politik-hukum : sentimen proteksi, regulasi kandungan MSG.

3.     Ekonomi : pendapatan per kapita.

Akibatnya, KFC mengalami kerugian yang cukup besar, baik karena kasus hukum, tindakan vandalisme, dan image perusahaan.


Senin, 12 Oktober 2020

Daur Hidup Produk

Nama : Hany Nadyandika

NPM : 12217670

Kelas : 4EA10

Mata Kuliah : Manajemen Pemasaran Era Rev.Industri 4


Daur hidup produk adalah daur suatu produk / organisasi dengan tahapan-tahapan proses perjalanan hidupnya mulai dari peluncuran awal, peluncuran resmi, perubahan dari target awal, lalu mulai berkompetisi dengan produk-produk yang sejenis, hingga melewati persainagn dan kompetisi produk memiliki tingkat penjualan yang luas dan tersebar.

Untuk memperpanjang daur hidup produk dapat dilakukan upaya-upaya seperti: mendidik pasar, beriklan, menjaganya dengan penjualan dsb. 

Jumat, 06 Juli 2018

Curriculum Vitae

Nama: Hany Nadyandika
NPM: 12217670
Kelas: 1EA04
(Bahasa Indonesia)
Daftar Riwayat Hidup
Data Pribadi
Nama                                    : Hany Nadyandika
Jenis kelamin                        : Perempuan
Tempat, tanggal lahir            : Bogor, 10 Juni 1998
Kewarganegaraan                : Indonesia
Status perkawinan                : Belum kawin
Tinggi, berat badan              : 165 cm, 53 kg
Kesehatan                             : Sangat baik
Agama                                   : Islam
Alamat lengkap                     : Jln. Mawar,Blok DN no 3, cibinong 16913
Telepon, HP                           : 021-84245678, 08575674789
E-mail                                     : hanyhany@gmail.com
Pendidikan
Normal
2004 – 2010         : SDN Pajeleran 01, Cibinong
2010 – 2013         : SMP Negeri 3, Cibinong
2013 – 2016         : SMA Negeri 4, Cibinong
2016 – sekarang : Universitas Gunadarma
Non Formal
2005 – 2007  : Kursus Bahasa Inggris di LPIA, Cibinong
2008 – 2009  : Kursus Komputer & Internet di Puskom Gilland Ganesha, Cibinong
Kemampuan
1.     Kemampuan Komputer (MS Word, MS Excel, MS Power Point, MS Access, MS Outlook).
2.     Kemampuan Internet.
(Bahasa Inggris)
Curriculum Vitae
Data Pribadi
Full Name                   : Hany Nadyandika
Sex                             : Female
Place, Date of Birth  : Bogor, 10 Juni 1998
Nationality                  : Indonesia
Marital Status            : Unmarried
Height, Weight           : 165 cm, 53 kg
Health                         : Perfect
Religion                      : Moslem
Address                     : Jln. Mawar,Blok DN no 3,cibinong 16913
Mobile                          : 08575674789
Phone                         : 021-84245678
E-mail                         : hanyhany@gmail.com
Educational Background
Normal
2004 – 2010         : Pajeleran 01 Elementary School, Cibinong
2010 – 2013          : Junior High School Negeri 3, Cibinong
2013 – 2016         : Mutiara Baru Senior High School, Cibinong
2016 – now           : Gunadarma University
Non Formal
2005 – 2007  : English Language Course at  LPIA, Cibinong
2008 – 2009  : Computer & Internet Course at  Puskom Gilland Ganesha, Cibinong
Qualifications
1.     Computer Literate (MS Word, MS Excel, MS Power Point, MS Access, MS Outlook).

2.     Internet Literate.

Kamis, 19 April 2018

Artikel Bahasa Inggris dengan Tenses

Money from nothing
Chronic deflation may keep Bitcoin from displacing its flat rivals

     BITCOIN, to its most ardent fans, is more than useful way to pay for drugs. It is also a technological marvel that could disrupt much of the consumer-finance industry. But is it money ? The Bitcoin economy keeps growing1, despite the periodic disappearance of large quantities of currency in hacker heists. The total value of Bitcoins in circulation has risen to $7.9 billion2, from just $490m a year ago, while daily transaction volume is up by almost 60%. If Bitcoin aspires to match dollars and euros for money-ness, it will need to be more than just a Mastercard for nerds3.
     Economists reckon money is anything that serves three main functions. It must be a “medium of exchange”, which can reliably be swapped for goods and services. It should be a stable store of value5, enabling users to tuck some away and come back later to find its purchasing power more or less intact. And it should function as a unit of account : a statictical yardstick against which value in an economy is measured. The American dollar meets all three conditions4. Bitcoin has some way to go.
     Bitcoin does best as a medium of exchange, thanks to its clever technical design. Users can quickly move holdings around anywhere in the world. Rather than relying on central clearing-houses5, verification of transactions is done by “miners”, who are compensated for their work with newly created Bitcoin. The new money they create adds imperceptibly to Bitcoin inflation, spreading the cost of their work over all users. This elegant system makes Bitcoin cheap to use6. Because banks are not needed to confirm legitimate purchases, transaction fees are low. Bitcoin’s near-anonymity has also helped drive acceptance among those who would prefer to keep their transactions secret, whether drug-dealers or money-launderers. The combination of functionality and user interest means that people are finding it easier to swap coins for both goods and services and for other currencies. This rising credibility as a medium of exchange supports Bitcoin values7.
     Yet Bitcoin is not exactly a stable store of value8. It is technically equipped to do the job: coinssaved in a encrypted wallet on a hard drive can be retrieved for later use in purchases. But the currency’s wrote is prone to wild gyrations. Massive Bitcoin heists, like the recent plunder og roughly 6% of outstanding Bitcoin from the Mt Gox exchange, reduce confidence in the currency. Bitcoin prices dropped by 30% against the dollar in February due in part to the Mt Gox news. In more  bullish moments, interest has attracted speculator9, sending values soaring- at least temporarily. Cameron and Tyler Winklevoss, twin brothers known mainly for their early quasi-interest in Facebook, recently announced plans to launch a Bitcoin tracking fund, to make it easier for amateur investors to take a punt on the technology.
     Volatile values could prevent Bitcoin from ever establishing it self as a medium of account10. Even the few retailers who accept Bitcoin use other currencies as their principal accounting unit. Prices are given in a prominent currency (US dollars, for instance) and the Bitcoin price fluctuates automatically with changes in the crypto money’s exchanges rate. Similarly, most Bitcoin owners work in jobs with wages paid in traditional currencies. So long as Bitcoin buyers and sellers “think” in euros or dollars it will fall short of money status. And until Bitcoin values are less volatile relative to the currencies that now dominate real economics, users are unlikely to change their monetary frame of reference.
     That may be for the best, given another Bitcoin quirk. The currency’s “money supply” will eventually be capped at 21m units11. To Bitcoin’s libertarian disciples, that is a neat way to preclude the inflationary central-bank meddling to which most currencies are prone. Yet modern central banks favour low but positive inflation for good reason. In the real world wages are “sticky” : farms find it difficult to cut their employees pay . A modicum of inflation greases the system by, in effect, cutting the wages of workers whose pay cheques fail to keep pace with inflation. If the money supply grows too slowly, the prices fall and workers with sticky wages become more costly. Unemployment tends to rise as a result12. If employed workers hoard cash in expectation of further piece reductions, the down turn gathers momentum.
     Bitcoin’s money supply is still growing, its miners are just over halfway to producing the total possible number13New coins will be minted until around 203014. Miners may then introduce transaction fees as compensation for their critical verification work. More worryingly, deflation is already a reality. Soaring demand for the currency is partly responsible for boosting its price (therefore reducing the price of everything else in Bitcoin terms, generating deflation). But the knowledge that supply is ultimately finite is also a factor .
Digital Fetters
     That other currencies remain the medium of account has so far been the Bitcoin economy’s saving grace. If Bitcoin matured into a complete currency,  with large numbers of workers using it as their medium of account, then its inflexibility could bring economic havoc. Money supply “shocks” like the disappearance of Mt Gox, could set off a systematic collapse . Given a loss of faith in exchanges, users might with draw their coins in a panic, leading to a dangerous decline in transaction volume. Such hoarding could threaten Bitcoin’s status as a medium of exchange, leading to its complete demise as a currency15.
     Reputable exchanges with large institutional holdings could help stem such panics by advertising a willingness to sell their Bitcoins to meet liquidity demand. Yet because Bitcoin reserves are finite, users may not find the promise credible. By contrast, central banks with the inexhaustible resources of the printing press face no such inconvenient constraints

Analysis :
1.      Simple Present Tense, karena memakai rumus S + Vs/es + O contohnya keep merupakan Vdan ditambah s, jadi kalimat itu memakai tensis dari Simple Present Tense.

2.      Present Perfect Tense, kerena memakai rumus S + Have/Has +V3 + O contohnya kalimat      diatas memakai kata has dan risen merupakan V3, jadi kalimat itu merupakan tensis dari Present Perfect Tense.

3.      Simple Future Tense, karena memakai rumus S + Will/Shall + V1 + O + ANA contohnya kalimat  diatas memakai kata will dan ditambah V1 need, jadi kalimat itu merupakan tensis dari Simpel Future Tense.

4.      Simple Present Tense, karena memakai rumus S + Vs/es + O contohnya meet merupakan Vdan ditambah s, jadi kalimat itu memakai tensis dari Simple Present Tense.

5.      Present Continuous Tense, karena memakai rumus  S + be (am, is, are) + V-ing + O contohnya kalimat diatas memakai kata “relying”, jadi kalimat itu merupakan tensis dari Present Continuous Tense

6.      Simple Present Tense, karena memakai rumus S + Vs/es + O contohnya make merupakan Vdan ditambah s, jadi kalimat itu memakai tensis dari Simple Present Tense.

7.   Present Continuous Tense, karena memakai rumus  S + be (am, is, are) + V-ing + O contohnya kalimat diatas memakai kata “rising”, jadi kalimat itu merupakan tensis dari Present Continuous Tense

8.  Simple Present Tense, karena memakai rumus (-) S + be(am, is, are) + not + V + O contohnya kalimat diatas memakai kata is not dan exactly yang merupakan V1, jadi kalimat itu memakai tensis dari Simple Present Tense.

9.  Present Perfect Tense, karena memakia rumus S + Have/has + V+ O contohnya kalimat diatas memakai kata has dan attracted yang merupakan V3, jadi kalimat itu memakai tensis Present Perfect Tense.

10.  Simple Present Tense, karena memakai rumus S + Vs/es + O contohnya value merupakan Vdan ditambah s, jadi kalimat itu memakai tensis dari Simple Present Tense.

11.  Simple Future Tense, karena memakai rumus S + Will/Shall + V+ O + ANA contohnya kalimat diatas memakai kata will dan eventually yang merupakan bagian dari V1, jadi kalimat diatas memakai tensis dari Simple Future Tense

12.  Simple Present Tense, karena memakai rumus S + Vs/es + O contohnya tend merupakan Vdan ditambah s, jadi kalimat itu memakai tensis dari Simple Present Tense.

13.  Present Continuous Tense, karena memakai rumus  S + be (am, is, are) + V-ing + O contohnya kalimat diatas memakai kata “growing”, jadi kalimat itu merupakan tensis dari Present Continuous Tense

14.  Simple Future Tense, karena memakai rumus nominal S + Will/Shall + B+ O + ANA contohnya kalimat diatas memakai kata will dan be, jadi kalimat diatas memakai tensis dari Simple Future Tense

15.  Present Continuous Tense, karena memakai rumus  S + be (am, is, are) + V-ing + O contohnya kalimat diatas memakai kata “worringly”, jadi kalimat itu merupakan tensis dari Present Continuous Tense

Jumat, 17 November 2017

Sinopsis dan Pesan Moral dari Novel 5cm

Judul Novel : 5 CM
Penulis : Donny Dhirgantoro
Penerbit : PT.Grasindo
Tahun Terbit : November 2007
Tebal Novel : 381 halaman


Sinopsis

     Buku 5cm ini menceritakan tentang persahabatan lima orang anak manusia yang bernama Arial, Riani, Zafran, Ian, dan Genta. Dimana mereka memiliki obsesi dan impian masing-masing. Arial adalah sosok yang paling ganteng diantara mereka, berbadan tinggi besar. Arial selalu tampak rapi dan sporty. Riani adalah sosok wanita berkacamata, cantik, dan cerdas. Ia mempunyai cita-cita bekerja di salah satu stasiun TV. Zafran seorang picisan yang berbadan kurus, anak band, orang yang apa adanya dan kocak. Ian memiliki postur tubuh yang tidak ideal, penggila bola, dan penggemar Happy Salma. Yang terakhir adalah Genta. Genta selalu dianggap sebagai “the leader” oleh teman-temannya, berbadan agak besar dengan rambut agak lurus berjambul, berkacamata, aktivis kampus, dan teman yang easy going.

     Lima sahabat ini telah menjalin persahabatan selama tujuh tahun. Suatu ketika mereka jenuh akan aktivitas yang selalu mereka lakukan bersama. Terbesit ide untuk tidak saling berkomunikasi dan bertemu satu sama lain selama tiga bulan. Ide tersebut pun disepakati. Selama tiga bulan berpisah itulah terjadi banyak hal yang membuat hati mereka lebih kaya dari sebelumnya. Pertemuan setelah tiga bulan yang penuh dengan rasa kangen akhirnya terjadi dan dirayakan dengan sebuah perjalanan. Dalam perjalanan tersebut mereka menemukan arti manusia sesungguhnya.

     Perubahannya itu mulai dari pendidikan, karir, idealisme, dan tentunya love life. Semuanya terkuak dalam sebuah perjalanan ‘reuni’ mereka mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa, Mahameru. Dan di sanalah cerita bergulir, bukan hanya seonggok daging yang dapat berbicara, berjalan, dan punya nama. Mereka pun pada akhirnya dapat menggapai cita-cita yang mereka impikan sejak dulu.

     Setengah dari novel 5 cm. bercerita tentang keseharian lima sahabat ini, dari sifat-sifat mereka yang berbeda satu dengan yang lain sampai dengan perilaku dan aktifitas mereka yang penuh canda tawa, diselingi cerita tentang permasalahan antar-sahabat. Setengahnya lagi, novel ini menuliskan petualangan kelima sahabat dalam mendaki gunung Semeru.


Pesan moral

1. Cintai dan jaga alam di dunia ini. Tuhan menciptakan alam dan isinya untuk dimanfaatkan sebaik mungkin, bukan dieksploitasi dan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi.

2. Gantungkan mimpi lo, dimana lo bisa liat mimpi lo.
Kalo di film ini, difilosofikan... Gantungkan mimpi lo 5cm di depan kening lo... Supaya lo bisa liat dan gapai mimpi itu.
Dan percayalah, yakinlah, bahwa Tuhan akan membantu lo mencapai mimpi itu.

3. Cintailah tanah air lo sendiri. Mau bagaimanapun keadaan di dalamnya.
Itu tempat lo lahir. Disini lo dibesarkan, hidup, bermain, berkembang, tumbuh mendewasa... Yang salah itu bukan tanah airnya, tapi orang-orang tamak yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, bukan tanah air yang harus kita tinggalkan, tapi sudut pandang orang-orang tamak itulah yang harus kita ubah. Walaupun apa yang dibicarakan bukanlah hal yang mudah.

4. Dan terakhir... Tentang persahabatan...
Persahabatan itu tak akan lekang oleh waktu.... Saat cinta semu bisa sirna, namun persahabatan tak akan sirna...